Senin, 09 Desember 2013

ismi ana: studi kasus dan langkah-langkah pemberian bantuan

ismi ana: studi kasus dan langkah-langkah pemberian bantuan: STUDI KASUS Indra adalah anak yang pendiam dan selalu rajin belajar. Dia berasal dari keluarga sederhana akan tetapi Indra berhasil...

studi kasus dan langkah-langkah pemberian bantuan


STUDI KASUS

Indra adalah anak yang pendiam dan selalu rajin belajar. Dia berasal dari keluarga sederhana akan tetapi Indra berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolah SMK. Indra juga salah satu siswa yang patuh pada setiap guru.  
Di SMKN 1 Surabaya tempat Indra Permana bersekolah yang sekarang dia duduk di kelas XI jurusan teknik jaringan komunikasi. Dia merupakan salah satu siswa yang pernah mendapatkan peringkat satu di kelas X. Namun, Ketika Indra duduk di kelas XI, nilainya merosot karena mata pelajaran teori kompetensi keahliannya jelek sehingga peringkatnya juga menurun.
Pada mata pelajaran toeri kompetensi keahlian dia mengalami penurunan belajar disebabkan karena guru mata pelajarn yang dirasa tidak pernah memperhatikan Indra dan selalu berbuat menampakkan kerasnya dalan mengajar. Inilah penyebab Indra sering sekali izin untuk tidak masuk kelas.

A.  PENGUMPULAN DATA
     Proses pengumpulan data mengenai siswa yang berkasus (klien) dilakukan dengan berbagai pendekatan. Dalam studi kasus ini pendekatan atau cara yang digunakan oleh konselor dalam rangka pengumpulan data tentang siswa yang bermasalah.
Tindakan Guru BK
1.      Guru BK mengidentifikasi biodata siswa secara langsung dan tidak langsung.
2.      Guru BK mencari informasi tentang penyebab terjadinya pemerosotan nilai dengan cara menghubungi guru mata pelajaran dan teman-teman terdekatnya.
3.      Guru BK melakukan home visit untuk mengetahui lebih jelasnya penyebab terjadinya penurunan nilai.
4.      Melakukan pengecekan pada raport siswa dan melakukan program perbaikan.  

B.  PENGELOLAHAN DATA
     Data yang telah terkumpul tidak akan ada artinya jika tidak diolah secara cermat. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik jelas tidak dapat diketahui, karena data yang terkumpul itu masih mentah, belum dianalisis dengan seksama. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengolahan data adalah sebagai berikut :
a. Identifikasi kasus.
b. Membandingkan antarkasus.
c. Membandingkan dengan hasil tes.
d. Menarik kesimpulan.
Setelah diketahui berbagai macam informasi tentang siswa, maka Guru BK melakukan pengolahan data dengan cara.
1.      Mengidentifikasi masalah: nilai raport turun
2.      Membandingkan antar kasus : kelas X peringkat 1 akan tetapi ada waktu kelas XI terjadi penurunan nilai di salah satu mata pelajaran sehingga meneyebabkan penurunan peringkat.
3.      Membandingkan dengan hasil tes : tes IQ baik akan tetapi nilai jelek di salah satu mata pelajaran yaitu teori kompetensi keahlian.
4.      Menarik kesimpulan : Indra mengalami masalah belajar yang mana nilai dalam mata pelajaran teori kompetensi keahlian menurun sehingga dia peringkatnya juga turun. Sedangkan ketika guru mata pelajaran dan guru BK melaksanakan tes IQ Indra mendapatkan nilai yang baik akan tetapi ketika guru memberikan program perbaikan dia mengalami ketidakmampuan dalam mengerjakan soal-soal mata pelajaran teori kompetensi keahlian.

C.  DIAGNOSIS
     Diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan meneliti  gejala-gejala terjadinya masalah, yang meliputi keputusan tentang jenis kesulitan belajar anak, faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak, dan faktor penyebab utama kesulitan belajar anak dengan meminta bantuan dokter, psikiater, pekerja sosial guru kelas dan orang tua.
Langkah-langkah mendiagnosis masalah belajar yang dialami Indra, adalah:
1.      Jenis kesulitan belajar :
a.       Indra sering kali tidak memperhatikan Guru
b.      Indra selalu Izin keluar dari kelas
c.       Indra jarang masuk ketika mata pelajaran teori kompetensi keahlian.
2.      Factor penyebab utama kesulitan belajar :
a.       Indra merasa tidak diperhatikan oleh Guru mata pelajaran
b.      Indra merasa Guru mata pelajarannya jahat dan kejam.
D.  PROGNOSIS
     Menurut Sayhril dan Riska. “Prognosis merupakan usaha untuk menelah / mengkaji masalah yang dialami seseorang, termasuk kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul jika masalah itu dibantu, serta memperkirakan teknik atau jenis bantuan yang akan diberikan kepada orang yang mengalami masalah tersebut.”
     Setelah guru BK mengetahui penyebab terjadinya masalah maka kemungkinan yang akan terjadi ketika bantuan tidak segera diberikan adalah :
1.      Siswa tidak akan bisa mencapai harapan-harapannya
2.      Siswa akan menjadi anak yang selalu berfikiran negative terhadap guru
3.      Siswa tidak akan naik kelas
4.      Siswa tidak akan menguasai teori dan gagal dalam praktek
Kemungkinan yang akan terjadi ketika bantuan segera diberikan, adalah :
1.      Siswa akan mendapatkan harapan-harapannya
2.      Siswa akan menerima guru dengan baik
3.      Siswa akan memperoleh peringkat pertama
4.      Siswa akan ahli dalam bidang teknik jaringan komunikasi
Teknik atau jenis bantuan yang akan diberikan, adalah :
1.      Melakukan layanan konseling individu
2.      Memberikan motivasi
3.      Mengadakan kerja sama dengan guru mata pelajaran dan wali kelas
4.      Melaksanakan bimbingan karir
5.      Melaksanakan kegiatan home visit

E.  TREATMENT
     Treatment adalah perlakuan. Yang dimaksud perlakuan adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan, adalah :
1.      Melakukan layanan konseling individu
Guru BK bertemu secara langsung dengan Indra dengan tujuan agar masalah yang dihadapi Indra segera terentaskan.
2.      Memberikan motivasi
Guru BK memberikan motivasi-motivasi melalui cerite-cerita.
3.      Mengadakan kerja sama dengan guru mata pelajaran dan wali kelas
Guru BK mengadakan pertemuan dengan guru mata pelajaran demi suksesnya peserta didik. Guru BK memberikan informasi bahwasannya guru mata pelajaran haruslah menjadi guru yang baik bagi peserta didik.
4.      Melaksanakan bimbingan karir
Guru BK memberikan bimbingan karir dengan tujuan agar Indra lebih giat lagi dalam belajar apalagi dibidang keahliannya karena keahlian yang dia miliki akan menjadikan karir yang memuaskan.
5.      Melaksanakan kegiatan home visit
Guru BK bekerja sama dengan orang tua Indra agar Indra bisa menjadi siswa yang terbaik dengan cara memantau kegiatan dia selama di rumah dan memberikan bimbingan-bimbingan yang baik.

F.   EVALUASI
     Yang dimaksudkan dengan evaluasi adalah untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari  masalah kesulitan belajar. Apabila treatment yang telah dilakukan gagal maka perlu dilakukan pengecekan apa yang menyebabkan treatment ini gagal.

G. FOLLOW UP
     Usaha untuk mengambil tindakan seperlunya yang akan dilaksanakan sehubungan dengan hasil penilaian yang telah dilakukan. Guru BK melakukan tindak lanjut apabila tidak memenuhi beberapa kriteria dari keberhasilan yaitu apabila siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi, siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi, siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). Siswa mengalami perubahan dalam hasil belajarnya.

@ana nurfadana
 

Senin, 30 September 2013

Teori Hans J. Essyenck


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
       Dalam teori tiga faktor Hans  J. Eysenck merumuskan pendapatnya mengenai tingkah laku manusia yang bisa ditentukan melalui analisis faktor. Dalam analisis faktor Eysenck mengembangkan suatu metode, yaitu  criterion analysis. Dari analisis tersebut telah menghasilkan sistem kepribadian yang ditandai adanya sejumlah kecil dimensi-dimensi pokok yang didefinisikan dengan teliti dan jelas.
       Eysenck  berpendapat bahwa sifat dasar kepribadian berasal dari keturunan, dalam bentuk tipe dan trait. Namun dia juga berpendapat bahwa semua tingkah laku bisa dipelajari dari lingkungan. Menurutnya kepribadian adalah keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan.
       Pada teori sifat Eysenck menjelaskan tiga dimensi kepribadian, seperti :
·         Ekstraversi dan Introversi
Orang-orang ekstroversi mempunyai karakteristik utama, yaitu senang bercanda, penuh gairah, cepat dalam berpikir, optimis,
Orang-orang introver mempunyai karakteristik sifat-sifat yang berkebalikan dari mereka yang ekstrover.Mereka dapat dideskripsikan sebagai pendiam, pasif, tidak terlalu bersosialisasi, hati-hati, tertutup, penuh perhatian, pesimistis, damai, tenang, dan terkontrol.
·         Neurotisme
Eysenck menyatakan bahwa beberapa penelitian telah menemukan bukti dari dasar genetic untuk sifat neurotic, seperti kecemasan, hysteria, dan gangguan obsesif-kompulsif.
·         Psikotisisme
Orang yang skor P tinggi biasanya egosentris, dingin, kejam, agresif, curiga.Orang yang skor P rendah (mengarah pada fungsi superego) cenderung bersif mudah bersosialisasi, empati, peduli, kooperatif, mudah menyesuaikan diri.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana biografi Hans J.Eysenck ?
2.      Bagaimana gamabaran teori sifat tiga faktor Hans J.Eysenck ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.      BIOGRAFI EYSENCK
Hans J. Eysenck

Hans Jürgen Eysenck
Lahir
4 Maret 1916
Berlin, Jerman
Meninggal
4 September 1997
London
Kewarganegaraan
Kebangsaan
Bidang
Institusi
Mahasiswa
doktoral
Dikenal atas

       Selama perang dunia kedua dia bertugas di Mill Hill Emergency Hospital, yaitu rumah sakit jiwa yang merawat penderita gangguan jiwa yang kebanyakan terdiri dari militer, di rumah sakit inilah berkembang dengan pesat psikiatri social (karena oleh keadaan). Setelah perang selesai dia diangkat menjadi dosen dalam mata kuliah psikologi pada Universitas London dan direktur Departemen Psikologi pada psikiatri, yang meliputi Mansley Hospital dan Bethlem Royal Hospital, dan di tempat-tempat tersebutlah kebanyakan research Eysenck dilakukan. Pada tahun 1949-1950 dia datang di Amerika Serikat sebagai guru besar tamu di Universitas Pensyllvania, dan pada musim panas 1954 dia mengajar di Universitas California. Pada tahun 1954 dia ditunjuk sebagai guru besar psikologi di Universitas London.
            Secara garis besar, karya-karyanya Eysenck namapak jelas pengaruh spearman, disamping itu juga buah pikiran Thurstone. Pada sisi lain kalau di pelajari rumusan-rumusan teoritisnya, Nampak kesamaan corak dengan karya-karya ahli tipologi Eropa daratan, seperti Jensch, Jung, Kraepelin, dan Kretschmer nampaknya besar sekali pengaruhnya dan Esyenck sendiri beranggapan, bahwa penyelidikan-penyelidikannya langsung bersangkutan dengan perumus. Sebagai penulis Esyenck sangat produktif. Tulisan-tulisannya dimuat tidak kurang dari tujuh belas majalah, sedangkan buku-bukunya yang terpenting adalah: Dimension of personality (1947), The scientific study of personality (1952), The structure of human personality (1953).[1]   

B.       GAMBARAN TEORI SIFAT DAN FAKTOR (EYSENCK)
a.      Teori faktor eysenck      
           Teori kepribadian dari Hans Eysenck mempunyai komponen biologis dan psikometri yang kuat. Akan tetapi, Eysenck berargumen bahwa kecanggihan psikometri saja tidak cukup untuk mengukur struktur kepribadian manusia dan dimensi kepribadian yang didapatkan dari metode analisis faktor yang bersifat steril dan tidak bermakna, kecuali jika sudah terbukti mempunyai suatu ekstensi biologis.
b.      Kriteria dalam mengidentifikasi suatu faktor
            Dengan asumsi tersebut, eysenck membuat daftar empat kriteria dalam mengidentifikasikan suatu faktor, yaitu:
1.      Bukti psikometrik untuk eksistensi factor harus ditentukan. Kesimpulan dari kriteria ini adalah bahwa faktor harus reliable dan dapat direplikasi. Peneliti lainnya, dari laboratorium terpisah, juga harus dapat menemukan faktor tersebut, dan secara konsisten mengidentifikasikan ekstraversi, neurotisme, dan psikotik yang ditemukan oleh Eysenck.
2.      Faktor harus mempunyai keterwarisan (herbility) dan harus sesuai dengan model genetis yang sudah dikenal sebelumnya. Kriteria ini mengeliminasi karakteristik yang dipelajari, seperti kemampuan untuk mengimitasi suara-suara dari orang-orang terkenal atau keyakinan agama ataupun politik.
3.      Faktor harus masuk akal saat dipandang dari segi teorretia. Eysenck menggunakan metode deduktif dalam melakukan investigasi, dimulai dengan satu teori, kemudian mengumpulkan data yang konsisten secara logis dengan teori tersebut.
4.      Untuk eksistensi suatu faktor adalah bahwa faktor harus mempunyai relevansi sosial, yaitu harus ditunjukkan bahwa factor yang didapatkan secara matematika harus mempunyai hubungan (tidak harus hubungan kasual) dengan variabel sosial yang relevan, seperti kecanduan obat-obatan, kerentanan akan cedera yang tidak disengaja, performa cemerlang dalam olahraga, perilaku psikotik, kriminalitas, dan lain-lain.[2]
c.       Hirarki organisasi perilaku
            Eysenck mengenali suatu hierarki empat level dalam pengorganisasian perilaku, yaitu:[3]
1.      Type adalah tipe atau superfaktor. Suatu tipe terdiri dari beberapa sifat yang saling berkaitan. Sebagai contoh, ketekunan dapat berkaitan dengan inferioritas, penyesuaian emosional yang buruk, sifat pemalu secara sosial, dan beberapa sifat lainnya, yang kesemuanya dapat membentuk tipe introversi.
2.      Trait adalah beberapa respon umum yang saling berhubungan akan membentuk suatu sifat. Eysenck mendefinisikan sifat sebagai “disposisi kepribadian yang penting dan semipermanen”. Sebagai contoh, murid akan mempunyai sifat tekun apabila mereka biasanya menyelesaikan tugas kelas dan terus bekerja pada tugas-tugas lain sampai benar benar selesai.
3.      Habitual response, yaitu tindakan atau kognisi yang umum, yaitu respon yang terjadi secara berulang dalam kondisi yang serupa. Sebagai contoh, apabila seorang murid sering bertahan dengan suatu tugas sampai suatu tugas itu selesai, maka perilaku ini dapat menjadi respons yang umum. Kebalikan dari respons spesifik, respons yang umum harus cukup reliable atau konsisten.
4.      Specific response, yaitu kognisi atau tindakan spesifik, perilaku atau pikiran individual yang mungkin ataupun tidak merupakan karakteristik dari seseorang. Seorang murid yang menyelesaikan tugas membaca merupakan salah satu contoh dari respons spesifik.
d.      Dimensi kepribadian
Tiga dimensi kepribadian Eysenck adalah Ekstraversi (E), Neurotisme (N), dan Psikotik (P).
Eysenck berargumen bahwa setiap faktor memenuhi empat kriteria yang ia berikan untuk mengidentifikasikan dimensi kepribadian.
Pertama, bukti psikometrik yang kuat harus ada dalam setiap faktor, terutama faktor E dan N. Faktor P mencul belakangan dalam studi yang dilakukan Eysenck, namun tidak terlalu diperhatikan dengan serius oleh peneliti lain sampai pada pertengahan tahun 1990-an.
Kedua, Eysenck berargumen bahwa dasar biologis yang kuat terdapat dalam masing-masing superfaktor tersebut.
Ketiga, tiga dimensi kepribadian Eysenck masuk akal secara teoretis. Carl Jung dan yang lainnya telah melihat efek yang berpengaruh dari perilaku ekstraversi dan introversi (faktor E), dan Sigmund freud menekankan pentingnya kecemasan (faktor N) dalam pembentukan perilaku. Selain itu, psikotik (faktor P) selaras dengan para pakar teori seperti Abraham Maslow, yang menggegas bahwa kesehatan psikologis mencakup dari aktualisasi diri 9skor P rendah) sampai skozofrenia dan psikosis (skor P tinggi).
Keempat, Eysenck berulang kali memperlihatkan bahwa ketiga faktor berkaitan dengan isu sosial, seperti penggunaan obat obatan terlarang, perilaku seksual, kriminalitas, mencegah kanker dan penyakit jantung, serta kreativitas.






Ekstraversi
            Istilah ekstraversi dan introversi pertama dipakai oleh Jung. Menurut Jung, Ekstrversi adalah orang yang pandangannya obyektif dan tidak pribadi. Sedangkan introversi adalah orang yang pandangannya subyektif dan individualis.[4]
Adapun konsep yang dimiliki Eysenck mengenai ekstraversi dan introversi lebih dekat dengan penggunaan popular dari kedua istilah ini.  Orang-orang ekstrover mempunyai karakteristik utama, yaitu kemampuan bersosialisasi dan sifat impulsif, senang bercanda, penuh gairah, cepat dalam berpikir, optimis, serta sifat-sifat lain yang mengindikasikan orang-orang yang menghargai hubungan mereka dengan orang lain.
Orang-orang introvert mempunyai karakteristik sifat-sifat yang berkebalikan dari mereka yang ekstrover. Mereka dapat dideskripsikan sebagai pendiam, pasif, tidak terlalu bersosialisasi, hati-hati, tertutup, penuh perhatian, pesimistis, damai, tenang, dan terkontrol. Akan tetapi, menurut Eysenck, perbedaan paling mendasar antara ekstraversi dan introversi bukan terletak pada perilaku, melainkan pada sifat dasar biologis dan genetiknya.
Eysenck yakin bahwa penyebab utama perbedaan antara orang ekstrover dan introvert adalah tingkat rangsangan kortikal-suatu kondisi fisiologis yang sebagian besar diwariskan secara genetik. Oleh karena itu orang ekstrover mempunyai tingkat rangsangan kortikal yang lebih rendah daripada yang introvert, mereka mempunyai ambang sensoris yang lebih tinggi sehingga akan bereaksi lebih sedikit pada stimulus sensoris. Sebaliknya, orang-orang introvert mempunyai karakteristik berupa tingkat rangsangan kortikal yang lebih tinggi, sehingga mempunyai ambang sensoris yang lebih rendah dan mengalami reaksi yang lebih banyak pada stimulus sensoris.
Orang introvers memilih aktivitas yang miskin rangsangan social seperti membaca, olahraga soliter (main sky,atletik), organisasi persaudaraan eksklusif. Sebaliknya orang ekstroves memilih berpartisipasi dalam kegiatan bersama, pesta hura-hura, olahraga beregu (sepak bola, arum jeram), minum alcohol dan memakai narkoba. Esyenk menghipotesakan ektravers (disbanding introvert ) melakukan hubungan seksual lebih awal dan lebih sering dengan lebih banyak pasangan,dan dengan perilaku seksual yang lebih bervariasi. Ekstravers yang ketagihan alcohol dan narkotik cendurung mengkonsumsi dalam jumlah yang besar.[5]
Neurotisme
            Seperti ekstraversi-introversi, neurotisisme-kestabilan mempunyai komponen hereditas yang kuat. Eysenck menyatakan bahwa beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait neurotik, seperti gangguan kecemasan, histeria, dan obsesif- kompulsif. Juga ada keseragaman antara orang kembar-identik lebih dari kembar- fraternal dalam hal jumlah tingkah laku antisosial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa, tingkah laku menyimpang pada anak-anak, homoseksualitas, dan alkoholisme.
            Orang-orang yang mempunyai skor tinggi dalam neurotisme mempunyai kecenderungan untuk bereaksi berlebihan secara emosional, dan mempunyai kesulitan untuk kembali ke kondisi normal setelah tersimulasi secara emosional. Mereka sering mengeluhkan gejala-gejala fisik, seperti sakit kepala dan sakit punggung, serta mempunyai masalah psikologis yang kabur, seperti kekhawatiran dan kecemasan. Akan tetapi, neurotisme tidak selalu mengindikasikan suatu neurosis dalam artian tradisional dari istilah tersebut. Orang dapat saja mempunyai skor tinggi dalam neurotisme, tetapi terbebas dari gejala psikologis yang bersifat menghambat.
            Neurotisme dapat dikombinasikan dengan titik-titik yang berbeda-beda dalam skala ekstravers, tidak ada satu sindrom yang dapat mendefinisikan perilaku neurotis.Teknik analisis factor Eysenck mengasumsikan indepedensi factor-faktor, yaitu bahwa skala neurotisme mempunyai sudut siku-siku dengan skala ekstraversi (mengindikasikan kolerasi nol). Oleh karna itu, beberapa orang dapat mempunyai skor yang tinggi dalam skala N, tetapi menunjukkan gejala-gejala yang berbeda, bergantung pada derajat ekstraversi atau introversi mereka.
Psikotisisme
Esyenk sadar bahwa populasi data yang digunakan dalam penelitiannya terlalu luas dan global. Oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan dari sekian banyak populasi data itu ada yang sebenarnya tidak patut dia pilih. Maka dia pun mulai melakukan penelitian di rumah sakit jiwa ketika faktor data-data dari lembaga ini mulai dianalisis, faktor ketiga yang sangat pentingpun muncul yang dia sebut psikotisisme.
Sebagaimana halnya Neurotisme, orang psikotisistik bukan berarti mengidap psikotik, akan tetapi hanya memperlihatkan beberapa gejala yang umumnya terdapat pada diri orang psikotik. Walaupun demikian, kemungkinan untuk jatuh ke kondisi psikotik sangat terbuka, tergantung berada dilingkungan mana orang tersebut.
Ada berbagai gejala yang biasanya ditemukan pada diri orang-orang psikosistik, diantaranya adalah tidak punya daya respon, tidak memedulikan kebiasaan yang lumrah berlaku dan ekspresi emosional yang tidak sesuai dengan kebiasaan. Inilah yang menyebabkan orang-orang ini disisihkan dari orang-orang normal dan harus tinggal dilembaga-lembaga yang mengurusi orang dengan gangguan mental akut.[6]

e.       Pembentukan kepribadian
            Teori sifat Eysenck menekankan peran herediter sebagai faktor penentu dalam perolehan sifat tiga faktor, yakni ekstraversi, neurotisisme dan psikotisisme. Sebagian didasarkan pada bukti hubungan korelasional antara aspek biologis, seperti CAL (Cortical Arousal Level) dengan dimensi-dimensi kepribadian.[7]
            Namun Eysenck juga berpendapat, bahwa semua tingkah laku yang tampak –tingkah laku pada hirarki kebiasaan dan respon spesifik semuanya (termasuk tingkah laku neurosis) dipelajari dari lingkungan. Eysenck menganggap inti fenomena neurotis adalah reaksi takut yang dipelajari (terkondisikan). Hal itu terjadi manakala satu atau dua stimulus netral diikuti dengan perasaan sakit/nyeri fisik maupun psikologis. Apabila traumanya sangat keras, dan mengenai seseorang yang faktor hereditasnya rentan menjadi neurosis, maka bisa jadi cukup satu peristiwa traumatis untuk membuat orang itu mengembangkan reaksi kecemasan dengan kekuatan yang besar dan sukar berubah (diatesis stress model).
            Setiap kali orang mengahadapi stimulus yang membuatnya merespon dalam bentuk usaha menghindar atau mengurangi kecemasan, menurut Eysenck orang itu menjadi terkondisi perasaan takut/cemasnya dengan stimuli yang baru saja dihadapinya. Jadi kecenderungan orang untuk merespon dengan tingkah laku neurotik semakin lama semakin meluas, sehingga orang itu menjadi mereaksi dengan ketakutan stimuli yang hanya sedikit mirip atau bahkan tidak mirip sama sekali dengan objek atau situasi menakutkan yang asli.
            Apabila tingkah laku itu diperoleh dari belajar, logikanya tingkah laku itu juga bisa dihilangkan dengan belajar. Eysenck memilih model terapi tingkah laku, atau metode menangani tekanan psikologis yang dipusatkan pada pengubahan tingkah laku sesuai alih-alih mengembangkan pemahaman mendalam terhadap konflik di dalam jiwa.     
Eysenck mngembangkan empat inventori kepribadian yang mengukur superfaktor yang digagasnya, yaitu:
e.       Maudsley Personality Inventory (MPI), inventori ini hanya mengkaji E dan N, serta menghasilkan beberapa kolerasi dari kedua faktor tersebut.
f.       Eysenck Personality Inventory (EPI). Alat tes EPI ini memiliki skala kebohongan, untuk mendeteksi kepura-puraan, tetapi yang penting tes tersebut mengukur ekstraversi dan neurotisme secara independen, dengan kolerasi yang hampir 0 antara E dan N.
g.      Eysenck Personality Questionnaire (EPQ), yang memasukkan skala psikotik (P). Alat tes EPQ yang mempunyai versi dewasa maupun anak-anak, adalah revisi dari EPI yang sampai sekarang masih juga diterbitkan.
h.      Eysenck Personality Questionnaire-Revised, revisi dari EPQ. Muncul dari kritik terhadap adanya skala P dalam EPQ.
















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Tiga dimensi kepribadian Eysenck adalah Ekstraversi (E), Neurotisme (N), dan Psikotik (P).
Eysenck berargumen bahwa setiap faktor memenuhi empat kriteria yang ia berikan untuk mengidentifikasikan dimensi kepribadian.
Pertama, bukti psikometrik yang kuat harus ada dalam setiap faktor, terutama faktor E dan N. Faktor P mencul belakangan dalam studi yang dilakukan Eysenck, namun tidak terlalu diperhatikan dengan serius oleh peneliti lain sampai pada pertengahan tahun 1990-an.
Kedua, Eysenck berargumen bahwa dasar biologis yang kuat terdapat dalam masing-masing superfaktor tersebut.
Ketiga, tiga dimensi kepribadian Eysenck masuk akal secara teoretis. Carl Jung dan yang lainnya telah melihat efek yang berpengaruh dari perilaku ekstraversi dan introversi (faktor E), dan Sigmund freud menekankan pentingnya kecemasan (faktor N) dalam pembentukan perilaku. Selain itu, psikotik (faktor P) selaras dengan para pakar teori seperti Abraham Maslow, yang menggegas bahwa kesehatan psikologis mencakup dari aktualisasi diri 9skor P rendah) sampai skozofrenia dan psikosis (skor P tinggi).

                        Teori sifat Eysenck menekankan peran herediter sebagai faktor penentu dalam perolehan sifat tiga faktor, yakni ekstraversi, neurotisisme dan psikotisisme. Sebagian didasarkan pada bukti hubungan korelasional antara aspek biologis, seperti CAL (Cortical Arousal Level) dengan dimensi-dimensi kepribadian.







DAFTAR PUSTAKA

1.      Sujanto, agus,dkk. Psikologi Kepribadian,2009. Jakarta: Bumi Aksara.
3.      Alwisol, Psikologi Kepribadian, 2004, Malang: UMM Press
4.      Boeree , George,Personality Theories.  2006. Jogyakarta:Prismasophie,



[1]  Sujanto, agus,dkk. Psikologi Kepribadian,2009, Jakarta: Bumi Aksara. Hlm.59.
[3]  Alwisol, Psikologi Kepribadian, 2004, Malang: UMM Press, Hlm,255-256.
[5]  Alwisol, Psikologi Kepribadian, Op,cit, Hlm.257.
[6] Dr.C.George Boeree,Personality Theories, 2006, Jogyakarta:Prismasophie,Hlm. 236.
[7]  Alwisol, Psikologi Kepribadian, Op,cit,,Hlm,259-260.